REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyarankan PKS keluar dari dilema mempertimbangkan di koalisi atau tidak. "Saya rasa sebenarnya watak aslinya PKS ada di luar pemerintahan, maka jangan selalu ragu-ragu memutuskan untuk berkoalisi atau tidak" ujar Din yang ditemui usai seminar di Kampus UIN Syahid, Jakarta, Rabu (19/10).
Jika PKS tetap seperti itu, PKS akan kehilangan identitasnya sebagai partai dakwah. "Jika tak berubah, PKS akan ditinggal ummatnya" ujar Din.
| Today | 2504 | |
| Yesterday | 4969 | |
| This week | 2504 | |
| Last week | 39570 | |
| This month | 82009 | |
| Last month | 95040 | |
| All days | 2317139 |
Written by Administrator Friday, 23 September 2011 17:58
ADA yang berbeda Lapas Kelas I Tangerang, Jumat (23/9/2011) sore. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, tampak di sana bersama mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang memang menempati salahsatu sel tahanan LP. Beberapa nasi bungkus, tampak di meja sebuah ruangan, dan sejenak kemudian, keduanya menikmati nasi bungkus itu, sebelum melakukan berbagai pembicaraan. Didampingi beberapa pengurus Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, sore itu Din menyempatkan untuk mengunjungi Antasari sekedar mengajak diskusi, dan menyantap oleh-oleh seadanya berupa nasi bungkus
Ada yang menarik dari pembicaraan keduanya?
Banyak. Antasari benar-benar memanfaatkan pertemuan tersebut untuk sekedar menceritakan berbagai persoalan yang membelitnya, yang hingga kini masih tertutup kabut tebal
“Saya sangat setuju dengan sebuah istilah, untuk anda. Didzolimi,”ujar Din Syamsuddin menceritakan salahsatu penggalan kalimat yang sempat ia ucapkan setelah Antasari menyampaikan berbai keluhan dan tanggapan seputar kasusnya. Namun, Din tidak menjelaskan lebih jauh maksud didzoliminya Antasari. Yang pasti, pertemuan keduanya, memang diakui sebagai pertemuan yang sangat istimewa oleh Antasari.
“Perlu Pak Din ketahui, bahwa saya ini Muhammadiyah, karena keluarga saya memang dari Muhammadiyah. Maka dari itu, meskipun saya di sini, saya pun masih bisa mengetahui kisah-kisah sejarah Muhammadiyah seperti yang ada di film Sang Pencerah itu,”ujar Antasari. Tak pelak, pengakuan Antasari itu pun mendapatkan apresiasi dari Din.
Antasari mengakui, kasus yang membelitnya memang tergolong pelik karena berbagai kepentingan yang mengelilinginya. Namun, dirinya berjanji untuk mengikuti proses hukum sesuai dengan aturan yang ada.
“Saya memang didzolimi. Namun sebagai warga negara yang baik, saya akan ikuti tahapan demi tahapan proses hukum sesuai kaidah yang berlaku. Jika pengadilan kita fair, Insya Allah saya akan menemukan keadilan,”ujar Antasari.
Din Syamsuddin pun, tidak lupa mengajak rombongan dari PP Muhammadiyah untuk memberikan doa kepada Antasari pada kesempatan itu. Saat memberikan doa, mata Antasari tampak berkaca-kaca.
“Terimakasih. Terimakasih telah mendoakan kami,”balas Antasari.
Antasari yang didampingi Pengacara Maqdir Ismail, kemudian menyambut baik ajakan Din untuk menyantap makanan nasi bungkus yang sengaja dibawa dari Jakarta. Ketika ditanya soal oleh-oleh nasi bungkus, Antasari sempat memberikan banyak cerita seputar nasi bungkus, ketika dirinya masih memiliki jabatan di Gedung Bundar.
“Saya ketika masih di sana, sering sekali makan nasi bungkus. Sekarang, saya jadi teringat kebiasaan saya itu, ketika Pak Din membawakan saya oleh-oleh ini,”pungkasnya.
Saat Din pulang, Antasari pun mengantar hingga pintu gerbang Lapas. Din menjelaskan, pertemuannya dengan Antasari, sebenarnya sudah direncakanakn sejak dua bulan silam, Namun karena terhalang jadwal ke luar negeri yang padat, baru bisa direalisasikan sekarang. Oleh sebab itu, Antasari sebenarnya sudah mendapatkan informasi akan adanya kunjungan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut dari pengacaranya sejak lama. Meskipun tertunda, Din mengakui pertemuan dengan korban kedzoliman ini, tetap hangat dan membawa banyak pesan penting.#
Address: Jl. Kemiri No. 24, Menteng, Jakarta 10350
Tel: 021 - 3154939
Email: cdcc.secretariat@gmail.com