Jakarta - M. Din Syamsuddin (Ketua Presidium Inter Religious Council Indonesia) bersama Ketua MPR Taufiq Kiemas, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, meresmikan Taman Perdamaian Harmoni untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Kompleks MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat 10 Pebruari 2012. Dalam peresmian Taman Perdamaian itu dilakukan tanam pohon yang diwakili 8 tokoh lintas agama. Masing-masing M. Din Syamsuddin (mewakili Muhammadiyah), Iqbal Sulam (Nahdlatul Ulama), Slamet Effendi Yusuf (MUI), Andreas Yawangoe (PGI), Philip Wijaya (Walubi), I Nyoman Udayana (PHDI), Wayan Wiratma (Matakin), Mrg Martinus Situmorang (KWI).
Pendirian Taman Perdamaian dan penanaman pohon perdamaian merupakan rangkaian kegiatan dalam Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama yang berlangsung 5-12 Pebruari 2012 yang diselenggarakan IRC Indonesia. Pendirian Taman Perdamaian ini merupakan simbol kerukunan antar-umat beragama. Pendirian taman ini diharapkan dapat memupuk kecintaan terhadap NKRI.
Menurut Ketua Presidium IRC Indonesia, Din Syamsuddin, acara pendirian Taman Perdamaian dan penanaman pohon ini merupakan harmoni dari tiga pilar yaitu IRC Indonesia, Kementerian Kehutanan, Ketua MPR RI Taufiq Kiemas dan Ketua DPD Irman Gusman.
“Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama merupakan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai usul Raja Jordania. Resolusi PBB No. 65 Tahun 2010 yang menetapkan bulan Pebruari sebagai Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama,” kata Din. Sejak 2010 telah digelar Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama di berbagai negara. Selain itu, menurut Din, acara pendirian Taman Perdamaian dan penanaman pohon perdamaian dari 8 tokoh lintas agama ini untuk mendukung gerakan 4 pilar MPR RI. “Taman Perdamaian ini untuk melambangkan harmoni perdamaian,” katanya.
Ketua MPR Taufiq Kiemas mengatakan, penamanan pohon damai dengan tema Harmoni untuk NKRI merupakan upaya penegasan kembali kerukunan antar-umat beragama yang menjadi simponi yang indah di Indonesia. “Harmoni tanpa simponi belum lengkap,” ujar Taufiq Kiemas. Menurut Taufiq, kerukunan antar-umat beragama telah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. “Ini mendapat momentum saat pidato Bung Karno 1 Juni 1945, pada saat lahirnya Pancasila. Bung Karno menyatakan bahwa segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni tiada egoisme agama. Penegasan itu merupakan fondasi bagi toleransi dan hidup berdampingan secara damai dalam negara RI,” jelasnya. Taufiq menambahkan pendirian Taman Perdamaian ini menjadi penegasan ulang dari apa yang pernah disampaikan Bung Karno. “Ini mampu kita jaga sampai saat ini. Ini bisa menjadi sumbangan kita pada peradaban dunia. Taman Perdamaian ini menjadi upaya kita menyebarkan budaya damai dan toleran bagi masyarakat,” katanya.







![]() | Today | 3450 |
![]() | Yesterday | 2907 |
![]() | This week | 6357 |
![]() | Last week | 39570 |
![]() | This month | 85862 |
![]() | Last month | 95040 |
![]() | All days | 2320992 |
The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) is an international civil society organization headquartered in Jakarta, Indonesia, that was founded in June 2007 by scholars and activists of wide-ranging backgrounds.
Mission
CDCC aims to promote better understanding and peaceful relations among religions, cultures, nations, and civilisations at large. It seeks to actively mediate the divide that is being perpetuated by mutual fears and misunderstandings. It sets up initiatives for building and broadening interfaith, cross-cultural, international, and intercivilisational dialogues and cooperation, giving the highest priority to addressing the urgent problems of misunderstanding and violence through the provision of comprehensive, objective, and accurate studies of the problems involved.
Vision
Rather than viewing diversity as a threat and civilizations as always in clash, CDCC embrace the view that diversity is an opportunity, richness and an integral component for growth, in order to create a peaceful world. Diversity needs to be accepted, but at the same time one should not vindicate such a view as that the Moslem world and the West would be always in a perpetual conflict.
However, efforts to bridge the gap among societies, nations and world civilizations are likely to fail without participation, dialogue and cooperation of international community. There is an urgent need for a global movement to bridge that gap and promote dialogue, greater understanding and mutual respect between cultures and civilisations.
Address: Jl. Kemiri No. 24, Menteng, Jakarta 10350
Tel: 021 - 3154939
Email: cdcc.secretariat@gmail.com