REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mendesak aparat kepolisian dan badan intelegen negara untuk segera merilis nama-nama tersangka teroris yang ada di Indonesia ke organisasi masyarakat (Ormas). Hal itu dilakukan untuk mencegah adanya tindakan terorisme di Indonesia.
"Selama ini sudah banyak pelaku teroris yang tertangkap, polisi dan intelejen sudah tahu jaringan mereka dan siapa-siapa yang diduga masuk jaringan itu. Nama-nama ini dirolis kepada kami ormas sehingga kami bisa melakukan pengawasan dan tidak ada lagi bom seperti di Solo," terang Din kepada wartawan usai pelantikan rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Rabu (28/9).
Read more...






![]() | Today | 587 |
![]() | Yesterday | 4969 |
![]() | This week | 5556 |
![]() | Last week | 40814 |
![]() | This month | 80092 |
![]() | Last month | 95040 |
![]() | All days | 2315222 |
Written by Administrator Sunday, 12 February 2012 16:44

Jakarta: Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan tak ada agama di Indonesia yang menolak perbedaan.
"Dalam kesempatan yang baik ini, kami menyatakan tidak ada agama di Indonesia yang menolak keberagaman. Jangan selalu mencari apa yang beda? Tapi, ambil berbagai persamaan yang ada untuk hidup rukun dan damai di Indonesia" kata Din dalam acara peringatan Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia 2012 di Auditorium Nusantara, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Ahad (12/2).
Selain Din, hadir pula ratusan pemeluk beragama di Indonesia yang dipimpin oleh perwakilan dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Andreas Sewangu, Persatuan Hindu Dharma Indonesia(PHDI) I Nyoman Udayana, Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) Philip Wijaya, Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia (Mataki) Wawan Wiratma, dan perwakilan dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI).
Dalam acara yang bertema "Keberagaman Menciptakan Harmoni Bangsa Indonesia" tersebut, para pemuka maupun perwakilan dari agama-agama di Indonesia menyatakan komitmen mereka untuk menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di bawah naungan Pancasila.
Din juga mengatakan pemilihan Gedung MPR/DPR sebagai tempat peringatan Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia bertujuan untuk mendekatkan hubungan antarumat beragama dengan wakil rakyat.
Hal tersebut ditanggapi positif oleh Ketua MPR Taufiq Kiemas yang mengatakan MPR akan mendukung setiap bentuk kegiatan yang mendukung terciptanya harmoni antarumat beragama di Indonesia. "Dari tahun ke tahun, MPR mendukung kegiatan yang mengikrarkan kembali komitmen kerukunan antarumat beragama di Indonesia," kata Taufiq.
Wakil PHDI I Nyoman Udayana mengatakan semua manusia di hadapan Tuhan adalah sama. "Hanya baik dan buruk yang membedakan kita. Jadi selayaknya semua manusia hidup rukun dengan segala keragamannya," kata I Nyoman.
Ia menambahkan hendaknya ada penghormatan dan penghargaan antarumat beragama sehingga tidak ada lagi istilah kesewenangan kaum mayoritas dan rintihan golongan minoritas. Selain itu, menurut dia, negara juga harus menjamin kebebasan itu demi menjaga keharmonisan antarumat beragama.
"Negara sudah menjaminnya dalam undang-undang, dalam penerapannya jangan ada pilih kasih antara mayoritas dan minoritas," katanya.
Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia diperingati selama minggu pertama di awal Februari yang ditetapkan oleh Sidang Umum PBB sejak Februari 2011.
Peringatan ini berfokus pada kesepahaman semua pihak akan pentingnya dialog yang menjembatani antarumat beragama untuk mempromosikan kerukunan dan perdamaian tanpa memandang agama yang dianutnya.
Sumber : Metrotvnews.com
Page 6 of 57
Address: Jl. Kemiri No. 24, Menteng, Jakarta 10350
Tel: 021 - 3154939
Email: cdcc.secretariat@gmail.com