Tangkal Radikalisme, Keragaman Budaya dan Agama Dapat Diajarkan di Sekolah

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

Jakarta – Keragaman agama dan budaya di Indonesia dapat diajarkan sejak dini di sekolah. Hal itu dinilai akan menciptakan sikap saling menghargai perbedaan di antara siswa, sekaligus melawan radikalisme.

“Dan memang alangkah baiknya di sekolah, orang Islam mengenal apa itu agama Kristen. Orang Kristen mengenal apa itu Islam,” kata Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) R Alpha Amirrachman saat dihubungiKompas.com, Selasa (2/8/2016).

Menurut Alpha, di samping memberikan pelajaran agama sesuai agama tiap siswa, sekolah dapat mengadakan sesi tersendiri untuk mengenal agama yang berbeda.

“Ya pertemuan di luar kelas untuk kenalkan agama yang ada. Mungkin tidak perlu terlalu detail, tapi mengetahui, memahami dan akhirnya nanti akan menghormati,” ucap Alpha.

Alpha menuturkan, guru dapat memaksimalkan peran mata pelajaran kewarganegaraan dan sejarah dalam menunjukkan keragaman agama dan budaya yang terjalin di Indonesia.

“Di sekolah ada ekstrakurikuler. Jadikan kegiatan ekstrakurikuler sepeti Pramuka dan Palang Merah Remaja untuk bangun kebersamaan di samping dialog lintas agama,” ujar Alpha.

Sebelumnya, Survei Wahid Foundation menemukan sejumlah data yang dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci.

Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia.

Sebanyak 82,4 persennya bahkan tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka.

Dari sisi radikalisme sebanyak 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukansweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat.

Hanya sebanyak 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Penulis : Lutfy Mairizal Putra
Editor : Bayu Galih
Kompas.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *