Kapolri Jenderal Tito Karnavian Bicara Toleransi Beragama di Depan Tokoh Lintas Agama

KAPOLRI - Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A.

Dialog Bersama KAPOLRI – Bapak Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A., 4 Agustus 2016

Jakarta – Kapolri Jenderal Tito Karnavian berbicara soal toleransi antar umat beragama. Tito mengajak seluruh tokoh agama untuk memperkuat toleransi agar konflik dapat terhindarkan.

“Mengenai toleransi agama, ini jadi persoalan di negara kita, di negara atas dasar bineka tunggal ika. Tapi sekitar sudah 70 tahun merdeka, masih banyak permasalahan soal itu,” kata Tito.

Tito menyampaikan ini saat menjadi pembicara utama dalam acara ‘Dialog Bersama Kapolri’ yang digelar Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di kantor CDCC, Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016). Din Syamsuddin dan tokoh lintas agama lainnnya hadir dalam acara itu.

Tito menuturkan, soal yang menyangkut toleransi dan kerukunan agama seharusnya sudah selesai setelah Indonesia 70 tahun merdeka. Namun disayangkan terjadi kembali.

“Di satu sisi kita ingin membangun kerukunan beragama, tapi kita berhadapan dengan demokrasi liberal yang bolehkan kebebasan ekspresi, berserikat, mengeluarkan pendapat dan lainnya, jadinya semua bebas,” ujarnya.

Kata Tito, kebebasan itu termasuk bebas menjalankan agama menurut kepercayan masing-masing. Tapi kebebasan ini jadi ruang juga bagi kelompok lain untuk menyampaikan ketidaksukaannya.

“Konflik terberat dan paling bahaya adalah keagamaan, karena dianggap sebagai perintah Tuhan, jadi ada yang sampai berani mati,” ujarnya.

Namun begitu, kata Tito, lebih berbahaya lagi konflik politik dan ekonomi dikemas dengan agama. Hal itu masih terjadi di Indonesia.

“Iklim kebebasan ini mau dikemas seperti apa? kebebasan sebebas-bebasnya ditambah ada media sosial. kasus Tanjungbalai itu dari media sosial, bukan dari media konvensional. Jadi perlu solusi,” tuturnya.

Karena itu, kata Tito, ada beberapa persoalan yang harus menjadi perhatian. Pertama, bagaimana menghadapi gelombang demokrasi yang mengarah ke liberal. Kedua, pilar-pilar yang menegakkan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, agak meredup dalam praktiknya.

“Ini harus dikuatkan agar bisa tahan dari serbuan demokrasi liberal. Karena kalau tidak malah cerai berai,” tuturnya.
(idh/rvk)

Sumber: Detiknews.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *