Islam Wasathiyah dalam Perspektif Politik

Islam Wasathiyah dalam Perspektif Politik

Dr. Muhammad Najib

Direktur Eksekutif CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilization),
mantan Anggota Komisi I DPR RI

***

Dalam Al Qur’an surah Albaqarah ayat 143 Allah menegaskan bahwa Ummat Islam dijadikan sebagai ummatan wasathan. Secara harfiah kata wasat atau wasathan atau wasathiah berarti posisi tengah atau sikap moderat. Ketua Muhammadiyah Haedar Nashir memaknainya : Islam yang dalam beragama menampilkan sikap tidak ekstrem (ghuluw), sehingga membentuk Muslim yang berakhlak mulia, damai, toleran, dan bermuamalah dengan siapa pun secara makruf.

Dalam kontek politik Indonesia sikap ini secara konsisten dan cerdas dipelopori oleh H.O.S.Tjokroaminoto saat memimpin Syarikat Islam (SI). Walaupun tegas menggunakan nilai-nilai Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan, ia tidak menutup pintu terhadap gagasan atau pemikiran lain yang memiliki tujuan sama. Ia juga tidak menolak untuk berdialog dan berkomunikasi dengan sang penjajah. Tjokro dalam pidato dan tulisan-tulisannya selalu menyandingkan kata merdeka dengan demokrasi, diikuti dengan sikapnya yang egaliter dan menentang feodalisme.

Karakter ini diikuti oleh murid-muridnya yang kemudian mengantarkan Indonesia memasuki gerbang kemerdekaan. Para founding fathers ini kemudian membangun rumah bangsa dengan fondasi yang kokoh yang dikenal dengan sebutan Pancasila dan UUD 1945. Bagi Ummat Islam Indonesia prinsip ini merupakan manibestasi dari  Islam Wasathiyah.

Organisasi-organisasi Islam yang tumbuh besar di Indonesia seperti Muhammadiyah, NU, HMI, Persis, Alwasliyah, ICMI dsb bergerak dengan ruh ini dan prinsip ini.

Kini di era globalisasi dan era media sosial faham-faham yang datangnya dari berbagai negara menjadi tantangan bagi pelaksanaan Islam Wasthiyah di tanah air.

Pasca Reformasi tahun 1998 yang merupakan bagian dari proses demokratisasi menyebabkan terbukanya pintu bagi tumbuh suburnya berbagai faham Islam yang ekstrem. Hal ini menjadi ujian para ulama Indonesia.

Sejatinya kini Barat (sekuler) maupun Timur (Islam)  melihat Indonesia sebagai salah satu negara Muslim yang sukses dalam mengawinkan prinsip-prinsip demokrasi dalam bernegara, toleransi dalam mengelola perbedaan, dan menghirmati HAM dalam masalah kemanusiaan. Bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh politik maupun agama yang ingin belajar dari pengalaman Indonesia.

Tokoh-tokoh Islam yang kini berkumpul di Bogor melalui High Level Consultation of World Muslim Scholars On Wasathiyah Islam (HLC-WMS) sebagai upaya untuk menguatkan tekad bersama dan menyatukan langkah dalam rangka menciptakan dunia  dunia yang lebih damai, lebih ramah, dan lebih toleran Melalui Islam Wasathiah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *