100 Tokoh Dunia Akan Hadiri World Peace Forum ke-7 di Jakarta

doc. CDCC-WPF7

JAKARTA – Seratus tokoh dunia akan menghadiri gelaran World Peace Forum (WPF) ke-7 di Jakarta pada 14-16 Agustus 2018 mendatang. Kali ini, acara tahunan yang digelar sejak tahun 2006 itu akan mengangkat tema ‘The Middle Path for the New World Civilization’.

Gelaran WPF ke-7 ini diselenggarakan atas kerja sama Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP DKAAP), CDCC dan the Cheng Go Multi-Cultural & Education Trust of Malaysia. Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membuka acara ini.

Ketua Center Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Din Syamsuddin mengatakan dalam WPF ke-7 ini para tokoh akan membahas paradigma jalan tengah ditinjau dari berbagai perspektif sebagai solusi atas kebangkrutan peradaban dunia akibat ekstremisitas.

WPF ke-7 sendiria kan dibagi ke dalam beberapa sesi. Di sesi-sesi itu, para tokoh akan mengelaborasi konsep jalan tengah dalam berbagai perspektif, seperti budaya, ekonomi, dan politik.

“Tentunya perspektif agama dan ideologi negara-negara tak ketinggalan untuk dibahas,” ujar Din dalam konferensi pers di Kantor CDCC, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).

Din berharap, forum ini akan menghasilkan kesepakatan Jakarta berisi konsep paradigma jalan tengah yang bisa ditawarkan sebagai solusi bagi kebuntuan peradaban dunia.

“Kami ingin ikut berkontribusi pada pembangunan peradaban global yang selama ini diwarnai ekstremisitas. Terlalu kanan dan terlalu kiri. Kita punya Pancasila yang kita yakini sebagai jalan tengah,” ucap Din. (kri)

Forum Perdamaian Dunia akan Digelar Agustus

doc. CDCC – WPF

Jakarta – Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC) bersama World Peace Forum (WPF) akan menggelar forum perdamaian ke-7. Pertemuan tersebut sebagai upaya mencari jalan tengah bagi peradaban dunia.

“WPF akan berkumpul, berbicara, membahas satu tema penting yaitu jalan tengah sebagai solusi terhadap peradaban dunia. Tema ini sengaja kita angkat untuk ikut menjawab permasalahan dunia,” kata Ketua CDCC Din Syamsuddin di Kantor CDCC, Jalan Brawijaya VIII, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).

Ia menuturkan, rusaknya peradaban dunia disinyalir karena sistem dunia selama ini terjebak dalam liberalisme khususnya di bidang politik, ekonomi, dan budaya.

“Rusak ya atau runtuhnya peradaban dunia dan kita dengar adalah karena sistem dunia yang ada selama ini terjebak kepada ekstremitas. Khususnya, kuatnya liberalisme baik dalam bidang ekonomi politik dan budaya,” tutur Din.

Lebih lanjut Din berharap agar pertemuan pada forum perdamaian tersebut mampu menghadirkan jalan tengah bagi perdamaian dunia. Ia juga menuturkan, ideologi Pancasila menjadi salah satu jalan tengah yang dimiliki oleh Indonesia.

“Kita berharap jalan tengah ini menjadi solusi dan negara dengan jalan tengah Pancasila adalah ideologi nasional yang berada pada jalan tengah. Dan di sini, Indonesia, ada agama-agama yang termasuk Islam khususnya yang juga sangat menekankan jalan tengah,” ungkapnya.
Pertemuan tersebut akan digelar pada tanggal 14-16 Agustus 2018 mendatang di Jakarta dan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh dunia dan juga dalam negeri. Sejumlah tokoh tersebut berasal dari kalangan agamawan hingga penentu kebijakan.

“Forum perdamaian dunia ini akan kita selenggarakan tanggal 14 sampai dengan 16 Agustus 2018 di Jakarta dan akan menghadirkan sekitar 100 tokoh dunia, baik agamawan, intelektual, cendekiawan, penentu kebijakan dan lain. Sebagainya 50, nanti juga tokoh dari dalam negeri,” tutupnya.
(yas/rvk)

Source: Parastiti Kharisma Putri | detikNews

Interfaith leaders committed to peace at Assisi summit

din-syasuddin-assisi-2016-2Muslim, Jewish, Christian and Buddhist religious leaders applauded the “Spirit of Assisi” in interreligious meetings launched by Pope St. John Paul II thirty years ago in the Italian hill town.  At the conclusion of a four day peace summit of interfaith leaders in Assisi, representatives who addressed the gathering thanked Pope Francis for, in the words of the Muslim representative from Indonesia, “his endless commitment for peace.” Pope Francis arrived in Assisi Tuesday morning to attend the final day of the meeting, organized by the Sant Egidio lay community.

Din Syamsuddin, Chairman of the Advisory Council of the Indonesian Council of Ulama, expressed “high appreciation” to the lay Community of Sant’Egidio for “having kept alive the spirit of Assisi” by organizing the event each year.  Noting that Indonesia is the world’s most populous Muslim country, Chairman Syamsuddin said the cooperation “has brought concrete fruits of peace such as our common work in interfaith dialogue, peace education among youth, peace process and conflict resolution in Mindanao, South Philippines.”

Violent extremism in the name of religion is an abuse of religion

The gathering each year has helped moreover, he added, “to materialize our common ideals for peaceful coexistence and collaboration.  To say, and to show, with concrete actions, that violent extremism in the name of religion is indeed misuse and even abuse of religion. Never violence can use the name of religion, never!”

The Spirit of Assisi, he insisted, “is the true dialogue of life that should be continued for the sake of our world,” and he added, “we want to strengthen our commitment for this noble cause.  Let’s walk together in unity and diversity on the path to peace.”

Jewish Rabbi: despite diversity, it is possible to become friends and live in peace

In his remarks, Rabbi Brodman, Chief Rabbi of Savyon, Israel, recalled his own childhood at a Nazi concentration camp, and his frequent talks to young people today “because [he] who does not know history is condemned to repeat it.”  The Spirit of Assisi, he affirmed, “is the best example for humility and holiness and it is the answer to the tragedy of the Shoah and of every war.”

In Assisi, he stressed, “we say to the world that it is possible to become friends and to live together in peace, even if we are different.”  With the courage of dialogue, he said, conflicts can be prevented and a human world created “where everybody can recognize in others the image of God.”

Anglican Archbishop: listen, eat, come and trust

In an ecumenical prayer ceremony in Assisi, the Archbishop of Canterbury, Justin Welby reflected on the misconception in today’s world that money makes one rich:  “We think ourselves rich.  Our money and wealth is like the toy money in a children’s game: it may buy goods in our human economies which seem so powerful, but in the economy of God it is worthless.  We are only truly rich when we accept mercy from God, through Christ our Saviour.”

And, he offered this consideration about Europe:  “The greatest wealth in European history has ended in the tragedies of debt and slavery.  Our economies that can spend so much are merely sandy foundations.  Despite it all, we find dissatisfaction and despair: in the breakdown of families; in hunger and inequality; in turning to extremists.  Riddled with fear, resentment and anger, we seek ever more desperately, fearing the stranger, not knowing where to find courage.”

God, he said, “offers wealth that is real and will bring satisfaction.” In order to receive God’s mercy, one must listen to the “most helpless and the poorest;”eat “above all in the Eucharist, in sharing the body and blood of Christ;” cometo the Lord and trust in His mercy. “When we receive mercy and peace,” he said, “we become the bearers of mercy and peace.”

Ecumenical Patriarch Bartholomew I: need for examination of conscience

In his remarks, the Patriarch Archbishop of Constantinople said peace “needs a few cornerstones to uphold it even when it is endangered.”

“There can be no peace without mutual respect and acknowledgment,” he added.  “There can be no peace without justice;  there can be no peace without fruitful cooperation among all the peoples in the world.”

He also said peace comes from “mutual knowledge and cooperation”, and spoke of the need for the leaders gathered in Assisi to revive these.

“We need to be able to ask ourselves where we may have been wrong, or where we have not been careful enough; because fundamentalisms have risen, threatening not only dialogue with others, but even dialogue within our own selves, our very own consciences. We have to be able to isolate them, to purify them, in the light of our faiths, to transform them into richness for all,” he said.

Buddhist priest:  prayers and dialogue a “shortcut to peace”

91 year old Koei Morikawa Tendaizasu, Supreme Priest of the Tendai Buddhist Denomination of Japan described being able to pray with world religious leaders at these interfaith meetings as “one of the most joyous occasions” of his life.

“History has shown us that the peace attained by force will be overturned by force,” he observed.  “We should know that prayers and dialogue are not the long way but the shortcut to peace…We cannot, however, overlook the current world movements which separate dialogue from unity and cooperation and demand isolation and power.”

“In order to create a world with virtue where abhorrence exists and with love where hatred exists, we clergy must pray together hand in hand and continue to do our very best.”

Victim of Syrian war: Before, there was no difference between Christians and Muslims

One of the many victims of conflict attending the summit, Tamar Mikalli described being heartbroken when saying the name of her home city of Aleppo, Syria.

“I remember my many Muslim and Christian friends.  Now distinctions are made between Christians and Muslims, but before the war there was no difference.  Everyone practiced his or her own religion, in a land that formed a mosaic through different cultures, languages and religions.”

“When the heavy bombings were close to our houses,” she said, “we met with our neighbours, sharing bread and water, the most precious goods that go missing during wartime.  We encouraged each other and prayed.”  She explained how she and her family escaped to Lebanon and then finally were given refuge in Italy where they are doing their best to integrate, and asked for prayers “for peace and love to return to Syria and all over the world.”

Archbishop of Assisi:  need for a “world-scale policy of brotherhood”

Archbishop of Assisi, Domenico Sorrentino, described the interfaith summit as offeringa spirit of prayer, understanding, and peace that aims at being an answer in a world darkened by many wars. Wars that sometimes, improperly, even blasphemously and in satanic ways, weave religious banners.”

Addressing Pope Francis, Archbishop Sorrentino said, “during this year…you have taught us to live this culture of peace as the culture of mercy. That is a culture of love, capable of caring, of being moved, and of forgiving, according to the Evangelical beatitude: “Blessed are the merciful, for they will be shown mercy”.

By practicing and testifying to our religious beliefs and by respectfully listening to those of others during such meetings, he said, “we have experienced true friendship.”

“But we need to go further. Our friendship must turn into a contribution for a world-scale policy of brotherhood.”

“Is it possible,” he asked, “for humanity to perceive itself as one single family? We believers think it is possible. This is the motive for our work, while we search for what unites us together and disregard what divides us.”

Pope, Refugees and Religious Leaders Pray for Peace

By PAOLO SANTALUCIA AND FRANCES D’EMILIO,
ASSOCIATED PRESS ASSISI, Italy — Sep 20, 2016, 2:50 PM ET

din-syasuddin-assisi-2016-3Pope Francis met with war refugees and religious figures on Tuesday in Assisi, the Italian hometown of the tolerance-preaching St. Francis, for a day of prayers for peace, openness toward refugees and calls for religions to marginalize fundamentalism.

He lamented in a prayer service in St. Francis Basilica that refugees from conflicts often receive “the bitter vinegar of rejection.”

“Who listens to them? Who bothers responding to them?” Francis said. “Far too often, they encounter the deafening silence of indifference, the selfishness of those annoyed at being pestered, the coldness of those who silence their cry for help with the same ease with which television channels are changed.”

Throughout his papacy, Francis has decried those who turn their backs on those fleeing wars and poverty.

Orthodox leader Bartholomew I, the Ecumenical Patriarch of Constantinople, exhorted fellow participants to work to isolate fundamentalisms, which threaten “our very coexistence,” from their religions.

A Muslim speaker, Din Syamsuddin, president of the Indonesian Council of Ulema, lamented that lack of peace in the world is expressed in injustice, terrorism and other evils, and that some groups use the name of Islam to carry out violent acts.

Francis told participants: “Peace alone is holy, not war!”

Later, the names of countries where war or other violence is raging were read aloud, in alphabetical order, with a tall, slender candle lit for each place. Places cited included Syria, Yemen, Nigeria, Mexico, Ukraine and Mindanao in the Philippines.

Participants signed an appeal to the world’s leaders to eliminate the “motives” of war such as greed for power and money, including in the arms business, and the thirst for vengeance.

Earlier, after chatting individually with each of dozens of participants, Francis dined with them in the Franciscan convent. The diners included 12 refugees from war and conflicts in Nigeria, Eritrea, Mali and Syria.

At the end of the day, an Armenian woman from the besieged Syrian city of Aleppo addressed the participants. Tamara Mikalli said that when she pronounces the name of her city her “heart tightens.” She recounted that she fled with her family to Lebanon after their house was bombed and reached Italy thanks to a “humanitarian corridor” that saw Syrian refugees flown from Lebanon.

Another woman, from Eritrea, identified only as Enes, recounted that during lunch the pope asked each of the refugees how they reached Italy. “I told him I made a voyage in boat, navigating in the Mediterranean after crossing the desert,” the Italian news agency quoted her as saying.

Still another participant in Assisi was a young girl, identified only as Kudus, who had already met the pope. She was one of 12 Syrian refugees who flew to Italy with the pontiff from Lesbos, the Greek island where thousands of refugees landed after fleeing across the Mediterranean on smugglers’ boats.

Christians, including the pope, prayed in the basilica, while those from other religions, including Jews, Muslims, Hindus, Buddhists and others, prayed elsewhere in the town. For centuries, Assisi has drawn admirers of the saint who abandoned family wealth for an austere existence of preaching tolerance.

Flanking the pope in the basilica was the Archbishop of Canterbury, Justin Welby, who decried how despite much wealth, people in Europe experience “dissatisfaction and despair, in the breakdown of families, in hunger and inequality, in turning to extremists.”

Earlier this week, Pope Francis urged people worldwide to pray on Tuesday for peace, whenever they could.

Francis took his papal name from the saint who was born in the Umbrian hill town, where Franciscans from the religious order founded by the medieval saint care for the basilica and its renowned artworks. St. John Paul II established the inter-religious prayer gathering in Assisi in 1986.

———

Frances D’Emilio reported from Rome. | AbcNews

 

Indonesia Dinilai Belum Lepas dari Isu Sektarian sejak Merdeka

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

Jakarta – Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), R. Alpha Amirrachman menilai Indonesia tidak bisa melepaskan isu sektarian sejak merdeka.

Di era reformasi, pengelompokan masyarakat justru kian menguat. “Identitas lokal menguat begitu masif,” kata Alpha saat dihubungi Kompas.com, Selasa (2/8/2016).

Menurut Alpha, menguatnya identitas lokal mengindikasikan perbincangan tentang kebangsaan belum selesai.

Sehingga terkesan masyarakat masih mencari jati diri melalui penguatan identitas lokal.

“Untungnya kita masih punya bahasa Indonesia untuk menyelamatkan bangsa sampai saat ini. Satu hal itu menyebabkan kita masih ketinggalan dengan China dan India. Sedangkan di Indonesia, pikiran dan energi habis mengurusi isu sektarian,” ucap Alpha.

Alpha bercerita, suatu ketika ia bertanya kepada salah seorang siswa di sekolah formal mengenai asal usul si murid. Ia mendapatkan jawaban tentang daerah asal dan agama.

“Jawabnya asal usul suku, agama. Di sekolah lain saat saya tanya, mereka jawab sebagai orang Indonesia. Di sekolah itu kepemimpinannya tanpa pandang suku dan agama sehingga identitas kebangsaan menguat,” ujar Alpha.

Menurut Alpha, kepemimpinan nasional perlu mengedepankan kepentingan bangsa agar tidak mudah terpecah belah. Dengan begitu, konflik yang tercipta dari aksi radikalisme akan bisa dihindarkan.

Sebelumnya, Survei Wahid Foundation menemukan sejumlah data yang dinilai cukup mengkhawatirkan.

Dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia. Sebanyak 82,4 persennya bahkan tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka.

Dari sisi radikalisme sebanyak 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukan sweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Dan hanya sebanyak 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian Bicara Toleransi Beragama di Depan Tokoh Lintas Agama

KAPOLRI - Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A.

Dialog Bersama KAPOLRI – Bapak Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A., 4 Agustus 2016

Jakarta – Kapolri Jenderal Tito Karnavian berbicara soal toleransi antar umat beragama. Tito mengajak seluruh tokoh agama untuk memperkuat toleransi agar konflik dapat terhindarkan.

“Mengenai toleransi agama, ini jadi persoalan di negara kita, di negara atas dasar bineka tunggal ika. Tapi sekitar sudah 70 tahun merdeka, masih banyak permasalahan soal itu,” kata Tito.

Tito menyampaikan ini saat menjadi pembicara utama dalam acara ‘Dialog Bersama Kapolri’ yang digelar Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di kantor CDCC, Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016). Din Syamsuddin dan tokoh lintas agama lainnnya hadir dalam acara itu.

Tito menuturkan, soal yang menyangkut toleransi dan kerukunan agama seharusnya sudah selesai setelah Indonesia 70 tahun merdeka. Namun disayangkan terjadi kembali.

“Di satu sisi kita ingin membangun kerukunan beragama, tapi kita berhadapan dengan demokrasi liberal yang bolehkan kebebasan ekspresi, berserikat, mengeluarkan pendapat dan lainnya, jadinya semua bebas,” ujarnya.

Kata Tito, kebebasan itu termasuk bebas menjalankan agama menurut kepercayan masing-masing. Tapi kebebasan ini jadi ruang juga bagi kelompok lain untuk menyampaikan ketidaksukaannya.

“Konflik terberat dan paling bahaya adalah keagamaan, karena dianggap sebagai perintah Tuhan, jadi ada yang sampai berani mati,” ujarnya.

Namun begitu, kata Tito, lebih berbahaya lagi konflik politik dan ekonomi dikemas dengan agama. Hal itu masih terjadi di Indonesia.

“Iklim kebebasan ini mau dikemas seperti apa? kebebasan sebebas-bebasnya ditambah ada media sosial. kasus Tanjungbalai itu dari media sosial, bukan dari media konvensional. Jadi perlu solusi,” tuturnya.

Karena itu, kata Tito, ada beberapa persoalan yang harus menjadi perhatian. Pertama, bagaimana menghadapi gelombang demokrasi yang mengarah ke liberal. Kedua, pilar-pilar yang menegakkan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, agak meredup dalam praktiknya.

“Ini harus dikuatkan agar bisa tahan dari serbuan demokrasi liberal. Karena kalau tidak malah cerai berai,” tuturnya.
(idh/rvk)

Sumber: Detiknews.com

Tokoh Lintas Agama Minta Umat Kendalikan Diri, Kedepankan Kerukunan

Dialog bersama KAPOLRI, 4/8/16, (kiri) Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A., (kanan) Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua CDCC

Dialog bersama KAPOLRI, 4/8/16, (kiri) Jenderal Pol. DR. H. M. Tito Karnavian, M.A., (kanan) Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua CDCC

Jakarta – Tokoh lintas agama menyesalkan terjadinya kerusuhan bernuansa SARA di Tanjungbalai, Sumatera Utama. Seluruh elemen diminta menjaga kerukunan agar peristiwa itu tidak terulang lagi di mana pun.

“Peristiwa Tanjungbalai kita menyesalkan dan mengecam segala kekerasan atas dasar dan bentuk apa pun yang tidak ada dalam agama-agama,” kata Chairman Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin.

Din menyampaikan ini dalam acara ‘Dialog Bersama Kapolri’ yang CDCC di kantor CDCC, Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016). Din Syamsuddin dan tokoh lintas agama lainnnya hadir dalam acara itu.

“Semua umat beragama di tanah air diimbau menahan diri, kendalikan diri, kedepankan kerukunan. Peristiwa Tanjungbalai ini jangan terulang kembali di tempat-tempat lain,” sambungnya.

Selain itu, Din juga berharap agar Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri yang baru dapat mengayomi dan menjaga situasi keamanan dan kenyamanan di masyarakat.

“Kami yakin Pak Tito seorang Jenderal intelektual cendekiawan yang punya pengalaman panjang dan pendidikan tinggi, apalagi beliau kuasai tujuh bahasa,” ujarnya.

“Diharapkan tampilkan 3 fungsi utama Polri yaitu sebagai pelindung, pelayan dan pengayom, bahkan beliau tambahkan secara tidak resmi sebagai perekat bangsa,” urainya.
(idh/bag)

Idham Kholid – detikNews

Din Syamsuddin Dapat Penghargaan dari Pemerintah Jepang

Din Syamsuddin

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

JAKARTA — Ketua Umum Muhammadiyah periode 2005-2015 Din Syamsuddin mendapatkan Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016. Dari keterangan pers yang diterima, penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016 diberikan kepada 142 individu dan 31 organisasi di seluruh dunia.

Di antara para penerima penghargaan itu, terdapat dua orang penerima penghargaan atas jasa yang terkait dengan hubungan Jepang dan Indonesia. Din Syamsuddin memperoleh penghargaan dari Pemerintah Jepang tersebut atas jasanya memberikan sumbangsih dalam peningkatan hubungan saling pengertian antara Jepang dan Indonesia.

Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang dalam bentuk surat penghargaan dan cenderamata akan diserahkan kepada Din Syamsuddin oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki dalam waktu dekat di Denpasar, Bali.

Selain Din Syamsuddin, satu orang lainnya yang menerima Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016 terkait peningkatan hubungan Indonesia-Jepang adalah Tsuneo Sengoku. Dia merupakan pemilik, pelatih dan kepala Sengoku International Judo Hall yang dinilai berjasa dalam mempromosikan Judo di Indonesia.

Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang dianugerahkan untuk menghormati para individu dan organisasi yang dinilai telah memberikan sumbangsih luar biasa.

Penganugerahan itu juga bertujuan agar setiap lapisan masyarakat di berbagai negara lebih memahami, mendukung, dan aktif melakukan kegiatan di berbagai bidang dalam rangka peningkatan hubungan masyarakat internasional, serta memberikan sumbangsih besar terhadap peningkatan hubungan persahabatan dengan Jepang.

Red: Esthi Maharani Republika.co.id

Tangkal Radikalisme, Keragaman Budaya dan Agama Dapat Diajarkan di Sekolah

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

Jakarta – Keragaman agama dan budaya di Indonesia dapat diajarkan sejak dini di sekolah. Hal itu dinilai akan menciptakan sikap saling menghargai perbedaan di antara siswa, sekaligus melawan radikalisme.

“Dan memang alangkah baiknya di sekolah, orang Islam mengenal apa itu agama Kristen. Orang Kristen mengenal apa itu Islam,” kata Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) R Alpha Amirrachman saat dihubungiKompas.com, Selasa (2/8/2016).

Menurut Alpha, di samping memberikan pelajaran agama sesuai agama tiap siswa, sekolah dapat mengadakan sesi tersendiri untuk mengenal agama yang berbeda.

“Ya pertemuan di luar kelas untuk kenalkan agama yang ada. Mungkin tidak perlu terlalu detail, tapi mengetahui, memahami dan akhirnya nanti akan menghormati,” ucap Alpha.

Alpha menuturkan, guru dapat memaksimalkan peran mata pelajaran kewarganegaraan dan sejarah dalam menunjukkan keragaman agama dan budaya yang terjalin di Indonesia.

“Di sekolah ada ekstrakurikuler. Jadikan kegiatan ekstrakurikuler sepeti Pramuka dan Palang Merah Remaja untuk bangun kebersamaan di samping dialog lintas agama,” ujar Alpha.

Sebelumnya, Survei Wahid Foundation menemukan sejumlah data yang dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci.

Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia.

Sebanyak 82,4 persennya bahkan tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka.

Dari sisi radikalisme sebanyak 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukansweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat.

Hanya sebanyak 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Penulis : Lutfy Mairizal Putra
Editor : Bayu Galih
Kompas.com

CDCC

Intoleransi dan Radikalisme Dinilai Perlu Jadi Perhatian Pemuda di Ormas Keagamaan

CDCC

R. Alpha Amirrachman, Ph.D, Executive Director of CDCC

Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) R Alpha Amirrachman mengatakan, hasil riset Wahid Foundation tentang radikalisme perlu diantisipasi bersama.

Wahid Foundation menunjukkan Indonesia rawan dengan tindakan radikalisme dan intoleran, terutama di kalangan pemuda.

“Hasil riset itu menunjukan indikasi ke arah sana, yang walaupun mungkin dalam kenyatannya belum tentu akan terjadi. Indikasi itu perlu diantasipasi bersama,” kata Alpha saat dihubungiKompas.com, Selasa (2/8/2016).

Menurut Alpha, organisasi keagamaan, terutama sayap pemudanya, perlu memberi perhatian pada hasil riset tersebut.

“Mereka cukup aktif berperan di masyarakat. Mereka yang akan ambil alih kepemimpinan selanjutnya,” ucap Alpha.

Alpha berharap para pemuda lintas ormas agama saling bekerja sama. Kerja sama diharapkan tidak hanya berhenti pada dialog keagamaan, namun juga membahas isu yang menjadi perhatian bersama, seperti pendidikan dan lingkungan.

Survei Wahid Foundation menemukan sejumlah data yang dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci.

Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia.

Sebanyak 82,4 persennya bahkan tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka.

Dari sisi radikalisme sebanyak 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukansweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Hanya 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Penulis : Lutfy Mairizal Putra
Editor : Bayu Galih
Kompas.com