Posts

Berkuasa Lagi, Pengamat: Dr M Berpeluang Bentuk Dinasti Baru

Mahathir Mohamad resmi dilantik sebagai Perdana Menteri ke-7 Malaysia pada Kamis malam 10 Mei 2018.

MAKASSAR– Mahathir Mohamad resmi dilantik sebagai Perdana Menteri ke-7 Malaysia pada Kamis malam 10 Mei 2018, menyusul kemenangannya atas Perdana Menteri Najib Razak dalam pemilu yang digelar pada Rabu lalu, ia mengucapkan sumpah jabatan di hadapan yang dipertuan Agung Sultan Muhammad ke-5 dari Kelantan.

Terpilihnya kembali sebagai PM Malaysia, memungkinkan Mahathir Mohammad mengukuhkan dinasti politik.

Guru Besar Hukum Internasional Unhas, Prof Syamsuddin Muhammad Noor, khawatir, Mahathir menjadi PM, bukan lagi untuk membangun kredibilitas Malaysia di panggung politik internasional.

“Dia akan membentuk posisi dinasti dirinya untuk kepentingan kelompok dan pribadinya. Masa depan Malaysia terancam,” jelas Syamsuddin, malam tadi.

Memang, Doktor (Dr) M, julukan Mahathir, membawa kemajuan bagi Malaysia. Di kancah internasional dan OKI, memiliki ketangguhan politik. Dipandang sebagai antibarat, karena konsistensinya tinggi.

Sedangkan Najib Razak, tipe pemimpin yang menganut modernitas, solidaritas tinggi terhadap negara Asean, dan berdiplomasi fleksibel dengan Indonesia.

Hanya saja, kata Syamsuddin, setelah Najib lengser, tentu menimbulkan banyak kecemasan. Terutama soal loyalitas Malaysia terhadap negara Asean.

“Karena satu-satunya yang diharapkan membawa masa depan Malaysia lebih baik adalah Najib, bukan sekadar pembangunan saja, tetapi dinamika politik tetap terjaga,” ungkapnya.

Malaysia selama ini hanya terbentuk oleh duo aktor, yakni Mahathir dan Najib. Khusus Anwar Ibrahim, dia terlalu cepat diturunkan dari panggung politik.

Padahal, Anwar didukung oleh kelompok-kelompok Islam terutama kalangan etnis Tionghoa.

Terpisah, Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan, hasil Pemilu Malaysia memberikan gambaran dan harapan adanya perubahan yang signifikan terhadap Malaysia ke depan.

Mahatir akan didampingi istri tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail. Anwar sudah masih ditahan dan baru bebas pada 8 Juni mendatang.

Meski Anwar merupakan mantan rival politik Dr M, kepemimpinan kedua orang tersebut akan menjadikan pemerintahan transisi yang berusaha melakukan reformasi hukum yang sebetulnya.

“Itu semua digelorakan oleh Anwar Ibrahim dulu, termasuk iklim demokrasi, situasi pembangunan, ekonomi yang memihak kepada keadilan bisa terwujud,” katanya.

Keduanya kata dia memang menyiapkan peralihan kepemimpinan dari Mahathir ke Anwar Ibrahim karena sudah ada kontrak politik.
“Mahathir harus menyiapkan Anwar untuk menggantikannya lantaran usianya yang sudah tua,” sebut dosen yang pernah mengambil konsentrasi Sejarah dan Politik Asia Tenggara itu.

Diakuinya juga, ketika pemerintahan dikendalikan oleh Anwar, maka upaya lebih lanjut dilakukan perubahan yang fundamental terhadap Malaysia.
Melalui tangan Anwar nanti diharapkan menjadi jembatan munculnya pemimpin Malaysia lebih mudah.

“Karier politik Anwar sudah lama sekali. Dimulai tahun 1970-an yang sangat cemerlang waktu itu menggerakkan kaum muda, menawarkan perubahan di Malaysia,” bebernya.

Najib pun juga begitu, tetapi Anwar bersebrangan secara politik dengan Najib, karena Najib status quo, Anwar fokus terhadap rakyat kecil.

Tentunya, masa depan Malaysia akan menjunjung tinggi demokrasi selama Mahathir tidak melakukan pengkhianatan. Bisa jadi, Dr M akan memberikan jalan kepada Anwar, lalu memilih pensiun.
Menurut hematnya, Mahathir memang harus melakukan pilihan secara elegan, dan dia menikmati masa tuanya sambil memperhatikan Malaysia ke depan.

“Jika begitu, maka kekuatan civil society akan mendapat tempat bahkan lebih menjanjikan,” jelasnya.

Dengan pikiran Anwar, demokrasi Malaysia akan berbasis pada nilai Asia. Termasuk nilai keislaman, dan kemelayuan.

“Pikiran ini membuat negara barat terkezima. Dalam konteks hubungan negara akan diterima oleh barat dan Asean, karena nilai universal, apalagi Islam yang moderat. Intinya Anwar ini tidak tertolak. Diterima oleh banyak negara,” bebernya.

Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang pernah melakukan perbandingan sastra politik antara Indonesia dan Malaysia itu menambahkan, pengaruh Anwar dengan negara timur dan barat diterima dengan baik.

Dia bisa membangun kekuatan secara internasional dan sangat diperhitungkan. (gun/zuk)


Oleh: Dr. Sudarnoto Abdul Hakim (Sekretaris Yayasan CDCC)

FAJARONLINE.CO.ID | Author : Rasid